Categories
news

Bank Indonesia Mengurangi Biaya Transaksi QRIS

Guna mendorong penggunaan transaksi non tunai di masa pandemi COVID-19, Bank Indonesia membebaskan biaya transaksi menggunakan QRIS (QR Code Indonesia Standard).

Kepala Perwakilan BI Kepri Musni Hardi K Atmaja mengatakan, sejak pandemi COVID-19, UKM yang menggunakan QRIS bertambah sekitar 5.000, menjadi 31.501 merchant.

Bank Indonesia juga menurunkan biaya dan menyesuaikan jadwal pelaksanaan kliring, melonggarkan kebijakan kartu kredit serta mendorong penyaluran dana bansos Pemeritah secara non tunai.

Biaya transfer dana yang dibebankan di wilayah kliring Batam, kepada nasabah berkurang dari maksimal Rp 3.500 menjadi maksimal Rp 2.900.

Waktu operasional kliring pun disesuaikan, kliring penyerahan pertukaran warkat debet yang biasa mulai pukul 11.00 hingga 11.30 WIB menjadi 10.00 hingga 11.15 WIB.

Kliring pengembalian pertukaran warkat debet berubah, yang biasanya 15.00 hingga 15.15 WIB, menjadi 13.30 hingga 14.15 WIB.

Bank Indonesia juga menurunkan batas suku bunga kartu kredit, penurunan batas minimal angsuran kartu kredit dan denda keterlambatan.

Bank Indonesia menghimbau masyarakat untuk meningkatkan transaksi non tunai atau digital seperti kartu debit, mobile banking, uang elektronik (e-wallet) untuk mendukung pencegahan penyebaran COVID-19.

Categories
news

Wajib QR Untuk Pembayaran Non Tunai

Mulai 1 Januari 2020 lalu, Bank Indonesia sudah mewajibkan semua penyedia layanan pembayaran non tunai untuk menggunakan QR Code. Bahkan pada 9 sampai 15 Maret digelar Pekan QRIS Nasional.

Kepala Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Pungky P. Wibowo mengatakan bahwa QRIS menjadi standar pembayaran di Indonesia karena berdasarkan banyak pertimbangan. Terutama adalah karena kemudahan bagi pengguna maupun merchant. 

Ia juga menambahkan, “dari segi konsumen, tidak harus membawa uang banyak, bisa menggunakan smartphone sebagai e-wallet untuk melakukan transaksi dari penyelenggara sistem pembayaran. Dengan menggunakan satu QRIS terkoneksi satu sama lain.”

Sedangkan manfaat bagi merchant yaitu kemudahan dalam pembayaran tagihan, retribusi, dan pembelian barang secara non tunai. Selain mengikuti program pemerintah, merchant juga tidak perlu menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC) dalam jumlah banyak. Jika kita sering melihat EDC berderet di meja kasir, tidak akan terlihat lagi di masa depan jika QRIS sudah diterapkan.

Menurut data BI, saat ini sudah ada 1,6 juta merchant yang menggunakan QRIS. Bahkan beberapa payment platform fintech pun sudah mengadopsinya, mulai dari OVO, LinkAja, juga Dana. Dipastikan Pekan QRIS yang berlangsung lima hari diramaikan oleh merchant dan pengunjung.

Pekan QRIS akan mengajak perbankan dan industri dan pemegang lisensi uang elektronik. Pameran ini akan mengedukasi pengguna dan merchant, khususnya menargetkan mereka yang bersentuhan langsung dengan transaksi ritel. 

“Di sini kami adakan sosialisasi above the line dan below the line, bukan hanya untuk masyarakat umum dan milenial, tapi juga segmen khusus, khusususnya tempat ibadah, sekolah universitas dan pasar tradisional. Kami ingin memberikan penjelasan dengan simple, mereka melihat lalu mempraktekkan,” ujar Pungky.